Sabtu, 31 Maret 2012

demonstrasi

dek, disana
mahasiswa demonstrasi tolak kenaikan bbm.
hingga tewas satu pemuda.
disini aku,
asalkan kau masih terus membina rasamu padaku,
maka cukuplah bahagiaku.
ijinkanlah saja aku
mendemonstrasikan rasaku padamu.
melalui bisik dan laku.
tanpa anarkisme.

Rumahku Kamu

Seperti saat kembali ke rumah
setelah mengelilingi kota dan tersesat.
Seperti itulah aku padamu.

Kamis, 24 November 2011

KAMU

aku takut membuka jejaring sosial.
karena aku pasti tergerak untuk menengok profilmu.
memandang fotomu.
membaca tiap posting terakhirmu.
lalu log out dengan sakit hati.

Senin, 17 Oktober 2011

Widya 16 Oktober 2011

Smsmu hari sebelumnya membuatku ingin menemuimu.
Maka bertemulah kita.
Kau masih secantik dulu walau kau kini bukan milikku.
Aku senang bertemu denganmu kemarin.
Jangan galau Widya. Kau harus tahu apa yang kau lakukan.
Semua ada resikonya. Jangan bermain api.
Semoga kau dan kekasihmu baik-baik saja dalam bahagia.
Dan semoga kekasihmu lebih bisa menghargaimu.
Itu akan membuatku sedikit lega.

Aku menyayangimu.

Selasa, 06 September 2011

Melukis di Wajahmu



[I]
Di jalan, gadis kecil tanpa masa depan
Berlari, tanpa mimpi, pupuslah harapan
Sore tadi ibunya tercinta telah berpulang
Sedang dari ayah tirinya, ia terbuang

Pergaulan membawanya menuju jurang
Ketidakpastian, akan langkah yang ia jelang
Hancur lebur kini setiap jengkal pengharapan
Gagal menguasai hatinya yang berantakan

Engkau melukis setiap inchi kegagalan
Simfoni rasa hampa berujung pada tangisan
Menari di trotoar hingga penghabisan
Sebelum kau tertidur karena kelelahan

Peluh membasahi setiap inchi muka
Paras ayu yang sayu berselimut oleh duka
Menangisi setiap tetes laku hidupnya
Dia lalu meratap, siap merajam hatinya




       Kau mengabdi pada hampa mimpi
       Kau hidup bukan menunggu mati



[II]
Tumpukan luka, tertata pengap dalam kamar
Tujuan samar, kau tatap dengan mata nanar
Sedang di trotoar kau lukiskan luka pola bergambar
Absurditas jeritan sebagai sketsa dasar

Di matamu tersirat warna gradasi rindu
Kasih sayang yang tak datang padahal engkau perlu
Lalu ujung sore yang mendung membuatmu ragu :
“Apakah aku dilahirkan hanya untuk sendu?”

Dan kau berjalan, tanpa arah, deras air mata darah
Menjadi jejak langkah dan prasasti rasa resah
Lalu usapan kuas mencumbui pigmen merah
Semerah hatimu yang telah bersimbah darah

Engkau meratap, merajam hati dengan kalap
Bagimu kini tak guna hidup bila hati sekarat
Lalu wajahmu kau lukis raut duka berkarat
Dalam hampa kau bawa jasad tuk bertahan kuat




       Kau mengabdi pada hampa mimpi
       Kau hidup bukan menunggu mati


       Kau mengabdi pada hampa mimpi
       Hidupmu harus berguna lagi